Aku Mencintai Mereka


Sahabat, mungkin ketika membaca judul diatas terpikir bermacam-macam hal ^_^. Tentu saja bukan masalah virus merah jambu, karena subjeknya "mereka" bukan "dia" (Hehe). Ini adalah ungkapan perasaan yang tak pernah aku publikasikan pada siapa pun, termasuk sahabat-sahabatku. Hmm, kita mulai ceritanya sekarang, ya?

Sekarang usiaku menginjak tujuh belas tahun. Semua yang ada pada diriku mulai berubah secara bertahap. Bisa dibilang aku  menjadi lebih dewasa. Disaat tak ada sahabat yang menemani, spontan pikiranku melayang menembus dimensi ruang dan waktu. Aku teringat masa kecilku.

Lima belas tahun silam, aku yang masih berusia dua tahun dibawa papa ke Jepang. Tentu bukan aku saja yang dibawa, mama dan adik laki-lakiku yang kala itu usianya masih dalam hitungan bulan pun pergi. Keberangkatan kami diwarnai air mata dari nenek dan keluarga besar. Wajar saja, karena kami pergi dalam kurun waktu empat tahun. Lama, ya?

Saat menginjakkan kaki di Negeri Sakura, mama pernah bilang, " Orang Jepang itu hebat, ya! Bahkan bandaranya saja membentang diatas lautan. " Sekeluarga, kami melesat menuju Osaka dimana papa kuliah. Aku sekeluarga tinggal di sebuah apartemen yang mungil namun menyimpan kehangatan. Bayangkan saja, apartemen itu hanya terdiri dari 2 kamar, yaitu ruang tidur sekaligus tempat nonton tv (enak yaa, sambil tidur bisa nonton ^_^) dan ruang makan yang dilengkapi kotatsu (meja pemanas, sayangnya beberapa tahun kemudian rusak), juga dilengkapi dapur dan wc.

Kala itu, aku yang masih berusia dua tahun belum begitu paham tentang kehidupan. Aku hanya menjalaninya dengan jiwa yang penuh semangat. Yuk, kita melompat menuju 2 tahun berikutnya..^_^

 Hari ini adalah hari pertama aku akan memasuki taman kanak-kanak. Namanya " Toyokawa Minami". Aku memiliki banyak teman, namun ada satu anak yang paling akrab denganku. Aku memanggilnya, Kaho-Chang. Dia berkulit putih kemerah-merahan, rambutnya selalu dikepang dua, matanya bulat, kalau tersenyum siapa pun yang melihatnya akan senang. Dan yang terakhir, dia adalah anak orang kaya.

Aku menikmati hari-hariku ke depan bersamanya. Kami sering membuat danggo (tanah yang digumpalkan sehingga berbentuk bulat, main tanah istilahnya ^^), kalau darmawisata tk, aku dan dia sering tertangkap kamera berduaan, karena kami begitu dekat. Setiap aku main ke rumahnya, keluarganya selalu menerimaku dengan tangan terbuka.

Suatu ketika, aku dan Kaho-Chang dimarahi sensei (guru). Telah menjadi rutinitas harian di tk jika bel sudah berbunyi, maka semua anak diwajibkan membereskan semua peralatan mainnya di lapangan. Mengembalikannya pada kondisi semula. Saat itu, dua bocah cilik asyik dengan danggonya. Teman laki-laki datang dan berujar, " Hei, sudahlah, ayo kita bereskan mainan. " Dua bocah cilik tadi malah marah-marah dan tidak mengacuhkan ajakannya. Saat bel masuk kelas berbunyi, tiba-tiba sensei datang dengan wajah menahan rasa kesal. Salah satu anak telah melaporkan kami yang merupakan dua bocah cilik tadi. Tak ayal, kami hanya menunduk dan saling menyalahkan satu sama lain. Dasar, ^_^

Dalam kesempatan lain, di tk diadakan pementasan drama. Temanya, tentang seekor tikus yang mencari pasangan hidup yang terbaik baginya. Ia bertanya pada angin, dan lain-lain (Lupa-lupa inga ). Aku dan Kaho-Chang yang memerankan  angin. Lengkap dengan kostum buatan dari plastik. Begitu menyenangkan ^_^

Karena keakraban kami, maka terjalinlah hubungan antar dua keluarga. Kami sering bepergian, malah kedua mama suka masak bareng. Satu hal yang ketika itu menjadi pertanyaanku. " Kok mama selalu menutupi kepalanya dengan sejenis kain. Apa salahnya jika dibuka saja seperti mamanya Kaho-Chang? ". Pertanyaan itu terjawab ketika aku baligh. Aku mencintai mereka, apalah daya, kita dipisahkan oleh satu perbedaan. Keyakinan..

Apakah sahabat tau, aku begitu merindukannya bahkan pernah memimpikan dirinya. Yaa, diriku yang berusia tujuh belas mulai paham arti menyayangi..

Yang kucintai bukan hanya Kaho-Chang, tapi ada satu keluarga lagi yang begitu berarti bagiku. Keluarga kami memanggilnya dengan nama "Okasan". Okasan adalah sosok seorang ibu berusia sekitar lima puluh tanunan. Ia berambut ikal dan pendek. Beliau memperlakukan kami layaknya keluarga yang istimewa. Setiap aku diajak berkunjung ke rumahnya, aku diperbolehkan melakukan apa saja, memegang apa saja, mulai dari piano, menikmati kursi pemijit badan otomatis, memberi makan kura-kura, apa saja. Tak lupa ia menghidangkan sushi (makanan Jepang) bagi kami. Sebenarnya, makanan tersebut teramat mewah. Okasan memiliki seorang suami yang bernama Sigoto dan 3 orang anak. Kehadiran mereka mendamaikan hati, disaat tak ada seorang pun sanak keluarga di negeri ini.

Aku mencintai mereka... Mengapa mereka memperlakukan kami begitu istimewa? Andai waktu bisa diputar,aku pasti akan tersenyum bahagia.. Sahabat, doakan aku bisa kembali mengunjungi tempat itu, menemui mereka Dan bertanya,

 " Aku Nadia-Chang yang dulu, dari Indonesia.. Apa kau masih mengingatku? "

Komentar

Postingan Populer