Benarkah Kau Mencintainya?

“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban dan pendekatan yang tekun.

Cinta adalah putra dari kecocokan jiwa.

Dan jikalau itu tiada,

cinta takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun,

bahkan millenia”


-Kahlil Gibran-

Ketika kebanyakan orang menganggap cinta adalah sebongkah perasaan yang harus diungkapkan, saya setuju. Dalam tanda kutip, setuju jika diungkapkan dalam situasi yang tepat. Seringkali saya bertanya pada mereka yang menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis mereka, “Mengapa kau bersedia menjadi kekasihnya? Sebegitu yakinkah dirimu, ia kelak akan menjadi imammu? “ Spontan beberapa dari mereka menjawab, “Sejujurnya, aku tak yakin jika kelak ia akan menjadi pasanganku. Aku hanya ingin menjalani apa yang ada di depan mataku sekarang. Masalah jodoh? Belakangan”. 

Apa benar demikian? Mengapa logika saya berkata lain? Pasalnya, mereka yang mengaku saling mencintai malah berbuat hal-hal yang terkadang di luar koridor Islam. Bayangkan saja, ketika mereka telah resmi melepas masa lajang dengan berganti status menjadi “berpacaran” dituntut saling memperhatikan satu sama lain. Telfonan? Wajib. Smsan? Harus. Ketemuan? Penting sekali.

Diri ini hanya mampu menghela nafas sejenak, memandang semua rentetan cinta. Penulis telah membaca dua sumber acuan, salah satunya adalah karangan Ahmad Rifa’I Rif’an, si penulis muda dengan sejuta inspirasi. Di dalam bukunya, beliau mengungkapkan bahwa seorang muslimah boleh mencintai orang lain asal dikemas dengan cara yang halal. Nah, maksudnya begini, kita boleh mencintai orang lain, namun tidak diperbolehkan keluar dari koridor yang telah diatur Allah swt. Jadi bagaimana cara mencintainya? Hanya satu jawabannya, pendamlah.

Sahabat fillah, coba kita renungkan sejenak. Mereka yang saling mencintai secara terang-terangan perlu ditanya.

“Sahabat, apa benar kamu mencintainya?”
“Tentu saja.”
“Namun, aku sedikit ragu dengan pernyataanmu barusan”
“Maksudmu?”
“Jika kamu sungguh mencintainya, tak akan kau biarkan dirinya melanggar perintah Tuhanmu.
“Jika kau sungguh menyayanginya, tak akan tega kau membuatnya melupakan Dia, sang Pemilik Cinta itu sendiri.
“Dan jika kau memang serius dengannya, kau tak akan mengucapkan I love you, melainkan kau mengucapkan qabiltu.
…….

Ya, wahai kaum hawa. Kita terlahir berbalut keindahan dan kelembutan hati. Jangan biarkan ia rusak disentuh oleh mereka yang tidak halal. Wahai kaum hawa, kita ini bukan lagi ibarat bunga. Kita bukan bunga yang boleh disentuh dan dinikmati oleh kumbang-kumbang yang hanya singgah sebentar saja di mahkotamu. Kita adalah permata. Permata itu berkilau, cantik, dan sangat mahal harganya. Ia tenggelam di dasar lautan, menunggu jemputan dari mereka yang berkomitmen tinggi menginginkanmu.

Mau tau bagaimana cara menilai laki-laki? Pernah tersenyum pada mereka?
Kebanyakan dari laki-laki pasti akan balik tersenyum padamu. Namun berbeda dengan laki-laki ini. Ia justru akan membalas senyummu dengan ekspresi datar. Mereka sombong? Bukan demikian. Ia bersikap demikian karena punya alasan khusus. Wanita adalah makhluk yang diciptakan dengan penuh kelembutan. Hati mereka mudah tergoncang. Apabila wanita diberi madu, maka ia akan merasakan betapa manisnya madu itu. Ibaratnya begini, ketika seorang muslimah tertarik pada lawan jenisnya, ia tersenyum saat berjumpa padanya. Andai saja lawan jenisnya itu membalas senyumannya, hati muslimah akan berdebar. Ia akan mengenang dan terus memupuk benih cinta tadi sampai dalam batas yang tak wajar. Karena tau hal ini akan terjadi, laki-laki ini tentu akan memasang ekspresi datar membalas senyummu agar hatimu tak goncang.

Perlu diingat, ini hanya ilustrasi. Usahakan jangan melempar senyuman pada mereka, lawan jenis. Ini akan mengganggu kedamaian hati dan tentu saja ini telah diluar koridor Islam itu sendiri.
Simpanlah rasa cintamu itu dalam sebuah peti yang bernama “diam”. Ingatlah sahabat, jodohmu telah ditulis di Lauh Mahfuz. Tak perlu takut akan tertukar. 
Ungkapkan di saat yang tepat, yakni setelah ijab qabul. Yuk, simak untaian kata penuh hikmah dari Ahmad Rifa’I Rif’an dibawah ini..


Nikah adalah penyempurna agama. Coba lihatlah sejenak jemari tanganmu. Di satu lengan kau punya lima jari, itu pertanda rukun Islam yang harus kau pegang teguh. Namun tahukah kau kenapa lima jari itu dicipta dengan bersela?
Ya, agar tiap selanya kelak akan digenapi oleh sela jemari yang lain. Yakni jemari kekasih yang sudah dipersiapkan Tuhan. Jemari itu lantas bergandenga erat. Lekat. Lalu berjalan melintasi usia yang tersisa dengan bersama. Hingga meraih jannah.

Komentar

Postingan Populer