Diary,
suatu malam, ketika aku sedang menikmati tontonan televisi di ruang keluarga,
tiba-tiba ponselku berdering. Ada pesan masuk. Segera kubuka dan kubaca
perlahan pesan itu. Mataku membelalak, mencoba mengeja kembali pesan singkat tadi
berharap penglihatanku tak salah. Huft, aku menghela nafas panjang.
Diary,
kau tahu siapa yang mengirimiku pesan singkat itu? Ia tak lain adalah teman
kuliahku, Jery. Seorang pemuda yang menurutku berperawakan tinggi, rambut
bergelombang, dan berkulit terang. Tiap kali diskusi, aku dapat melihat bola
matanya yang tajam tiap kali mengemukakan gagasan, penuh percaya diri. Entah
apa yang mendorongnya melakukan hal ini. Mengirimiku sebuah pertanyaan yang
sontak membuat diriku terpaku.
“ Nadia. Ini
Jery. Nadia, tipikal laki-laki yang Nadia suka kayak apa?”
Hatiku
berdebar, pipiku memanas. Aneh, ini bukan diriku yang biasanya. Aku diam membisu.
Diary, aku harus jawab apa? Akhirnya, aku mencoba membalas pesan singkat itu. “Aku
tak punya kriteria tertentu, untuk apa memikirkan itu? Masih terlalu dini untuk
mahasiswa angkatan satu”, ujarku ketus.
Ini adalah jawaban yang kukira paling aman. Setiap wanita pasti punya kriteria
untuk laki-laki idamannya masing-masing. Namun anehnya, sebanyak kriteria yang
telah mereka rancang, setiap kali juga mereka tertarik pada orang yang salah.
Salah dalam artian tidak sesuai dengan kriteria yang telah mereka pikirkan jauh
hari. Mereka mengatakan, “ Aku menyukai lelaki yang tutur katanya lembut “,
namun di dunia nyata mereka malah lebih tertarik pada lelaki yang dingin dan
tutur katanya kasar. Atau mereka mengatakan, “Aku benci lelaki yang hanya bisa
belajar dan tak jantan”, namun sejatinya mereka tertarik pada mereka yang
sukses dan penyayang.
Diary,
sampai sekarang, aku masih beranggapan bahwasanya wanita itu makhluk yang
sungguh aneh. Tak bisa ditebak apa maunya. Dari ilustrasi yang kugambarkan
tadi, dapat disimpulkan bahwa dalam mencintai tak diharuskan punya kriteria.
Harus ini, harus itu, sebenarnya tak mutlak. Karena menurutku, hati mampu
memilih dan Allah yang merestui. Jika Allah berkata itu adalah jodohmu, maka kalian
akan tertarik dan menikah, walau tak sama persis dengan rentetan kriteria yang
kau canangkan. Berjanji untuk saling menyayangi satu sama lain. Mahasiswa
angkatan satu? Aku yakin, mereka belum mengenal falling in love, melainkan
having a crush, sekedar tertarik , fitrahnya manusia.
Diary.
Sejujurnya, aku punya harapan kecil mengenai lelaki yang kuimpikan menjadi
imamku kelak. Tegas, sedikit bicara, namun begitu lembut dan penyayang. Satu
hal, ia harus mampu menyayangi ibuku layaknya ibu sendiri. Apalah artinya
kebahagiaanku jika tak diiringi oleh kebahagiaan ibu. Kriteria tinggallah
kriteria, tak selalu jadi penentu jodoh dalam pernikahan. Tugasku sekarang adalah
senantiasa membaikkan diri sampai saat itu tiba. Saat dimana kau datang
menemani hari panjangku. Aku akan menunggumu, wahai sang pelita hati. Teruslah
mendayung, jelajahi samudera impianmu.
Komentar
Posting Komentar