Namanya Ari
Hari
ini, aku begitu lelah dengan rutinitas harian yang kujalani. Aku mulai lelah
dengan yang namanya tugas, resume, makalah, atau apalah itu yang berhubungan
dengan kuliah. Bahkan, kedekatanku pada sang Khalik semakin renggang. Ada apa
ini? Ketika sampai di kosan segera kulepas tas yang membebani pundakku (walau
di dalamnya hanya berisi 3 buku :P) .
Kemudian,
kunyalakan TV untuk mengetahui apa saja yang telah terjadi di negeri ini. Wah,
banyak berita yang membuatku menggelengkan kepala, histeris, dan menghela nafas
yang panjang. Hal ini terkait kasus Jakarta International School yang masih
jadi perbincangan hangat di media massa. Sudah mendengar mengenai oknum yang
terlibat di dalam dalam pelecehan seksual anak-anak di sekolah ini? Ternyata,
salah satu oknumnya adalah William, seorang pengajar yang dikenal baik dan
menyenangkan di kalangan wali murid dan anak-anak. Memang benar, sesuatu yang
terlihat belum tentu sama dengan yang terlihat.. Ia telah melakukan pelecehan
seksual pada anak didiknya sendiri dan diduga kelainan jiwa, telah lama menjadi
buronan FBI. Yuk, waspada. Jangan mudah percaya pada mereka yang baru kamu
kenal, ya.
Di
puncak ketegangan tersebut, kudengar suara kambing yang merintih meminta
pertolongan. Tanpa pikir panjang, kulangkahkan kakiku ke kebun depan. Tampak
olehku nenek kosan telah berada diluar. Kupandangi di tangan beliau ada sapu
lidi. Wah, ternyata kambing liar ini tertangkap basah memakan bunga violet
kesayangan nenek. Nenek pun menodongkan sapu lidi pada hewan tanpa rasa berdosa
tersebut, berharap ia akan menyingkir dari bunga violet dan keluar dari pagar
yang membatasi sekeliling kebun tersebut. Pertama, nenek menggeser pagar agar
ia dapat keluar. Nihil. Si kambing liar ini masih tetap bersikukuh memakan
bunga violet yang masih tersisa. Baiklah, rencana pertama mungkin gagal.
Rencana
kedua, nenek berniat mendorongnya keluar melalui celah pagar. Perlu diketahui,
pagar nenek memiliki celah yang semakin ke bawah semakin menyempit. Mungkin
karena tau sapu lidi itu akan membahayakan dirinya, spontan kambing liar itu
memasuki celah pagar itu. Berhasil kabur? Ya, berhasil. Setengah tubuhnya dapat
keluar dari pagar itu. Namun sayang, perutnya yang berukuran cukup besar
terjepit di celah pagar yang menyempit tersebut. Sungguh memprihatinkan. Ia
terus menerus mengembek pasrah, sambil terus memakan bunga violet terdekat. Apa
ia tak melihat situasi? Dalam keadaan darurat seperti itu, ia masih bisa makan?
Mungkin inilah letak perbedaan manusia dengan mereka, para hewan. Nenek
menyerah. Beliau meletakkan sapu lidi itu di tempatnya semula dan pada akhirnya
masuk ke dalam rumah.
Aku
sebagai anak muda harus mengambil alih mandat. Segera kuberlari memasuki kamar
dan mengambil sarung tangan tebal yang biasa kugunakan untuk mencuci pakaian.
Kukenakan sarung tangan itu dan kembali mendekati makhluk malang itu. Karena
tak berani menyentuhnya, kuambil sapu lidi nenek. Bagian kayunya kujadikan
penyangga untuk menolak kakinya ke atas (bagian celah yang besar). Ia
meronta-ronta. Tentu saja hal ini membuatku gentar. Menyerah.
Aku terdiam di kejauhan berharap ada seseorang yang berbaik hati bisa membebaskannya. Kupandangi beberapa orang lalu lalang, mulai dari bapak-bapak, kurir galon, ibu-ibu,beberapa pemuda. Namun tak ada yang menyadari keberadaan kambing itu. Aku mulai kehabisan akal. Disaat itulah, tampak olehku seorang adik kecil memakai seragam putih-biru tersenyum melihat makhluk malang yang terjepit itu. Ia mendekat. Mengulurkan tangannya pada kambing itu. Ia mencoba menarik, namun tetap saja sulit. Perutnya terlampau besar melewati celah sempit itu, kecuali jika ia menariknya ke atas, ke bagian celah yang besar. Adik itu terus mencoba mengeluarkannya dengan menarik ekor kambing itu ke atas. Tetap saja si kambing menjerit. Kuminta adik itu masuk ke dalam pagar, mendorong bagian belakangnya bersamaku. Nah, kami punya ide baru. Sementara adik kecil itu menopang kaki kambing tersebut menggunakan sebelah kakinya, aku mendorongnya menggunakan tanganku yang berlapis sarung tangan. Berkali-kali kami lakukan. Akhirnya, berhasil. Kambing itu bebas. Setelah insiden kambing terjepit itu, aku bertanya pada adik kecil itu,
Aku terdiam di kejauhan berharap ada seseorang yang berbaik hati bisa membebaskannya. Kupandangi beberapa orang lalu lalang, mulai dari bapak-bapak, kurir galon, ibu-ibu,beberapa pemuda. Namun tak ada yang menyadari keberadaan kambing itu. Aku mulai kehabisan akal. Disaat itulah, tampak olehku seorang adik kecil memakai seragam putih-biru tersenyum melihat makhluk malang yang terjepit itu. Ia mendekat. Mengulurkan tangannya pada kambing itu. Ia mencoba menarik, namun tetap saja sulit. Perutnya terlampau besar melewati celah sempit itu, kecuali jika ia menariknya ke atas, ke bagian celah yang besar. Adik itu terus mencoba mengeluarkannya dengan menarik ekor kambing itu ke atas. Tetap saja si kambing menjerit. Kuminta adik itu masuk ke dalam pagar, mendorong bagian belakangnya bersamaku. Nah, kami punya ide baru. Sementara adik kecil itu menopang kaki kambing tersebut menggunakan sebelah kakinya, aku mendorongnya menggunakan tanganku yang berlapis sarung tangan. Berkali-kali kami lakukan. Akhirnya, berhasil. Kambing itu bebas. Setelah insiden kambing terjepit itu, aku bertanya pada adik kecil itu,
“Dik,
sekolahnya dimana, dik?
“Di SMP 25, kak
“Tinggalnya dimana?
“Di komplek belakang, kak?
“Boleh kakak tau siapa nama adik?
“Panggil aja Ari kak.
“Di SMP 25, kak
“Tinggalnya dimana?
“Di komplek belakang, kak?
“Boleh kakak tau siapa nama adik?
“Panggil aja Ari kak.
Subhanallah.
Mungkin sebagian pembaca menganggap hal ini sepele, namun ini menjadi inspirasi
luar biasa bagi penulis pribadi. Karena apa? Bayangkan, di tengah banyaknya
orang dewasa yang lalu lalang tadi, tak seorangpun yang tergerak hatinya untuk
menolong makhluk malang itu. Mungkin saja mereka tak menyadarinya. Namun ketika
adik kecil ini juga melewati gang yang sama, mengapa ia bisa melihat hal itu
sedang yang lain tidak? Mungkin inilah yang dinamakan mata hati. Orang yang
melihat dengan hati, ia cenderung lebih peka dibandingkan mereka yang hanya
melihat dengan mata. Di dunia ini, mungkin hanya segelintir orang yang seperti
Ari tadi. Apakah masih ada Ari-Ari yang lain? Ada, walau itu sedikit sekali.
Hal
ini mengingatkanku pada kisah zaman Nabi. Ketika itu, seorang pelacur melewati
sebuah jalan. Lantas, tampak olehnya seekor anjing yang kehausan.
Spontan, ia melepaskan sepatunya. Ia mengisi sepatunya itu dengan air dan
meminumkannya pada anjing. Ia adalah seorang wanita yang melakukan perbuatan
yang dinilai tak layak mendapatkan rahmat Allah. Namun, karena rasa peka dan
rasa ibanya menatap anjing tadi, ia digolongkan ke dalam mereka yang berhak
mendapatkan surga. Ingatlah sahabat, orang yang peduli akan hal-hal kecil
itulah yang kelak akan menjadi orang besar. Percayalah sahabatku . :)
Rasa
bosan tadi menjelma menjadi sebuah kekaguman. Ternyata masih ada seseorang yang
berhati mulia seperti itu. Ia tak berpangkat, ia tak kaya, ia tak rupawan,
namun sepotong hatinya tak ternilai harganya, ibarat mentari yang terus
memancarkan kehangatan untuk dunia.



Komentar
Posting Komentar