Sahabat



Sahabat, namaku Nadia dan usiaku 19 tahun. Jika dilihat sekilas, kalian akan beranggapan bahwa aku ini seorang gadis yang tenang dan tak banyak bicara. Teman? Ya, aku punya segelintir teman yang kurasa sedikit berbeda. Hanya segelintir. Bukannya aku pilah-pilah, melainkan hanya segelintir itu yang mampu membuatku nyaman dan  tampil apa adanya. Apa gunanya punya banyak teman jika mengharuskan dirimu memasang topeng tiap kali bicara atau tertawa.

Aku pernah menjalani kepalsuan itu, dulu. Percayalah, itu sangat melelahkan. Tetap mendengarkan walau dirimu tak berminat, mencoba tertawa walau sebenarnya itu tak lucu, dan menyunggingkan senyuman walau otot wajah menolak untuk bekerja. Aku benci kepalsuan. Jangan heran jika aku tampak dingin dan sulit didekati. Sejujurnya, aku bisa mendeteksi siapa yang palsu. Jangan harap mereka yang can’t be herself bisa menggaet hatiku. Karena apa? Aku tak ingin kalian merasa tak nyaman di dekatku. Ketika kalian merasa tak nyaman, aku merasa terbebani. Alasannya sederhana, aku ingin membuat siapapun bahagia. Keinginanku ini telah tertanam bahkan semenjak usiaku baru 2 tahun. Huft, sebuah keinginan itu sekarang menjelma menjadi sebuah kewajiban. Amat berat.

Dalam serial drama korea, ‘Good Doctor’, disebutkan bahwa untuk menjadi seorang mahasiswa, dokter, bahkan menjadi seorang lelaki, dibutuhkan kualifikasi tertentu. Untuk menyukai seseorang pun begitu. Nah, mungkin aku boleh meminjam kata ‘kualifikasi’ ini. Untuk menjadikanku sahabatmu atau bahkan pendamping hidupmu, kalian harus memenuhi satu saja kualifikasi. Cukup satu. Apa itu? Tak sulit, tampillah apa adanya. Katakan dengan lugas padaku, “ This is myself”, spontan aku akan bertepuk tangan dan menerimamu dengan hangat. 

Sahabat, apa kalimatku terdengar lucu? Bukan maksudku bersikap arogan, tapi aku tak ingin mereka yang kelak menjadi sahabatku berjiwa pecundang. Bagaimana mungkin aku bisa percaya pada orang yang tak percaya pada kemampuannya sendiri? Tentu jika mereka begitu, kelak ketika aku ditimpa masalah, mereka malah lari duluan. Ketahuilah, kasih sayang tidak hanya ditunjukkan dengan kelembutan namun juga dengan ketegasan. Keras mendidikmu menjadi kuat, tangguh, dan berpendirian. Mengertilah, sahabatku. Aku begini agar kau bahagia. Percayalah, jika kau sudah menjadi sahabatku, aku pasti akan memegang erat tanganmu, menarikmu ke tempat yang tinggi, merangkulmu menuju kehidupan yang lebih baik.  

Di akhir paragraf ini, aku selipkan puisi kecil untuk kalian, sahabat-sahabat terbaikku.
 Aku
 adalah pribadi yang pendiam
tak jarang orang menganggapku
tak ada
Namun, kalian menganggapku
nyata
mendengarkanku
tanpa sela
Aku
adalah pribadi yang rapuh
namun, kalian menjadi
tameng
menangkis  semua peluru jahat
yang melesat ke arahku
Aku
adalah pribadi yang kaku
namun, kalian menjadi
api kecil
yang memberi kehangatan
Terimakasih sahabat
karena menerimaku
dan tak menghindariku
yang seperti ini.

Komentar

Postingan Populer