Temui Aku, Ayah



Suatu anugerah yang tah terhingga, ketika Allah masih membiarkan memoriku bersamamu masih melekat kuat dalam ingatan.

Ayah, aku menyayangimu. Sungguh, detik ini aku merindukan hadirmu. Ayah, tidakkah kau ingin melihatku tumbuh ayah? Aku bukan lagi anak nakal yang akan mengusik tidurmu. Aku bukan lagi anak-anak yang masih bisa bergelayut manja di kakimu. Terakhir kali aku menghidangkanmu minuman, aku memberimu jus tomat yang telah tersedia di kulkas tanpa sepengetahuan ibu.  

Ayah, sekarang aku sudah mampu membuatkan segelas teh hangat untuk menemani pagimu, ayah. Aku akan mengambilkan sepiring nasi untuk menemani malammu. Aku akan memijatmu agar lepas penatmu, ayah. Ayah, datanglah padaku barang sejenak...
Ayah, aku merindukan amarahmu. Aku merindukan tepukanmu di pundakku. Aku rindu  ucapan pemungkasmu, “Kau bisa, Nak.”

Ayah, siapa yang akan melakukan semua itu untukku, ayah?
Kepada siapa lagi aku harus bersandar kalau bukan padamu, ayah?
Apa yang bisa aku perbuat padamu? 
Bahkan saat kau ada, mengatakan  sayang saja aku tak mampu. Maafkan aku, ayah. Bahkan sampai akhir hidupmu, aku masih menjadi anak yang nakal.

Beristirahatlah ayah, kau pasti lelah menjaga kami selama ini. Tidurlah yang lelap, Yah. Kini, giliranku menjaga ibu dan adik. Terima kasih ayah, kau telah memberiku cinta yang begitu besar. Aku sayang ayah, dulu, kini, dan selamanya. Tunggu aku, ibu, dan adik di syurga..

Salam rindu dari putri kecilmu, Nadia.

Komentar

Postingan Populer