Bye-Bye Rasa Takut!


Tulisan ini sengaja kubuat malam ini, dikala jam digital menunjukkan pukul 11.31 WIB, pertanda sebentar lagi Kota Padang akan memasuki pergantian hari. Hatiku begitu tergerak menekan toots pada notebook mungil ini. Sudah lama tidak menulis membuat rindu ini tak terkira. 
 
Hari ini, aku ingin menulis tentang Cara Menaklukkan Rasa Takut. Rasa takut ini mengidap banyak kalangan, mulai dari anak-anak hingga remaja. Disimak, ya :) 
Pernahkah teman-teman melihat adik-adik kecil kita ketakutan jika disuruh pergi ke kamar kecil sendirian? Mereka akan merajuk agar kita dapat menemani mereka. Ketika kita melontarkan pertanyaan, " Kenapa kamu takut, dek? " Secara spontan mereka akan berdalih, " Nanti muncul hantu, kak ". Itu hanya ilustrasi sederhana.
Sekarang, kita akan beralih menuju rentetan fakta yang mungkin sering terjadi. Sebelumnya, untuk merilekskan diri, silakan teman-teman menarik nafas yang dalam, tahan, kemudian hembuskan melalui mulut. Sudah merasa lebih tenang? Sip, kita lanjutkan tulisan ini.
Ilustrasi berikutnya, Bayangkan dirimu sedang berada dalam ajang diskusi. Diskusi itu dihadiri begitu banyak orang yang tidak lain adalah teman-teman sekelasmu. Presentasi dari kelompok penyaji sedang berlangsung. Dirimu begitu terfokus pada slide yang muncul secara bergantian di layar hingga tidak mengubris segala gangguan yang ada. Sampai akhirnya, muncul sebuah pertanyaan di benakmu. Saat penyaji menyelesaikan presentasi mereka, dibukalah sesi kedua, kesempatan bagi siapa saja untuk bertanya. Sementara itu, dirimu mulai berpikir, " Apakah pertanyaanku ini logis? Apa nanti teman-teman tidak menertawakan pertanyaanku? Tidak. Aku yakin mereka pasti tertawa mendengar kebodohanku. Aku tak ingin direndahkan. "
Saat teman-teman telah tersadar dari alam bawah sadar, terdengarlah suara moderator, " Apakah masih ada pertanyaan? " Dikala itu teman-teman memilih untuk tidak jadi bertanya dan diam. Pernahkah teman-teman berada dalam situasi demikian?
Kedua ilustrasi tersebut berbeda tingkatan persoalannya, namun ada satu hal yang sama, " Takut ". Semakin bertambah usia, maka tingkat ketakutan semakin tinggi.
Nah, sekarang muncul pertanyaan di benak penulis. " Apa yang menyebabkan rasa takut? " Banyak faktor yang mendorong terjadinya rasa takut. Rasa takut sebenarnya terjadi karena adanya trauma atau tekanan yang menyebabkan mereka tidak lagi mampu mengulang peristiwa di masa lampau. 

Pada ilustrasi pertama, rasa takut mereka muncul karena adanya tekanan. Hal ini terjadi karena didikan lingkungan sekitar. Seringkali ketika orang tua ingin menjauhkan anak dari bahaya, beliau menakut-nakuti sang anak. Misalnya, agar anak-anak tidak mendekati sumur yang dalam, para orang tua mengatakan " Jangan kesana, Nak. Kalau kamu sendirian kesana, nanti muncul si Casper lho.. " Maksud orang tua baik, tidak ada orang tua yang berniat jahat pada anaknya sendiri. Tidak ada. Namun, apakah dengan memberikan tekanan akan memberikan efek positif?
Kita melompat menuju ilustrasi kedua. Apa yang menyebabkan mereka merasa ragu atau takut dalam berbicara? Banyak hal. Kemungkinan besar hal ini terjadi karena trauma pada masa lampau. Bayangkan, misalnya ada seorang remaja yang masih duduk di bangku SMP. Dikala itu, ia baru diajarkan tata cara diskusi oleh gurunya. Saat diskusi pertama dilakukan, dengan antusias ia mengacungkan telunjuk. Ketika ia menyampaikan pertanyaan tersebut, spontan kelas menjadi riuh akibat gelak tawa. Anak tadi heran, apa yang salah dengan pertanyaannya?

Teman sebangkunya tanpa rasa bersalah mengatakan, " Pertanyaan macam apa itu? Hal semudah itu saja kamu tidak tahu?"
Anak tadi tertunduk. Pengalaman pertamanya membuat dirinya kapok bertanya untuk kedua kalinya. Satu hal yang perlu diingat, betapa banyak negator di dunia ini. Begitu banyak orang yang bermodalkan pendapat negatif menjatuhkan orang-orang disekitarnya. Termasuk penulispun, pernah menjadi negator. Cara menjabat sebagai negator sangat mudah. Cukup dengan hanya "tertawa" sambil memandangi orang yang bertanya, kita telah dicap sebagai negator. Inilah yang menjadi pemicu utama penghancur kesuksesan. Kita coba ya, menanggalkan jabatan ini dan menjadi orang baik.
Kali ini, akan kuberitahukan pada teman-teman cara menghadapi negator. Ketika negator melancarkan aksinya padamu, tak usah dibalas. Cukup hanya dengan tersenyum. Tersenyum? Ya. Kita ibaratkan, Hanya orang kecil yang akan memaki balik negator. Anggap dirimu orang besar yang tak mudah terpengaruh oleh gangguan2 kecil si negator. ,Apakah pertanyaan kita itu bodoh ? Tidak. Hanya orang2 terpilih yang memiliki rasa ingin tahu untuk bertanya. Jangan pernah rendahkan dirimu sendiri. Semakin kamu tumbuh besar, maka semakin besar batu-batu yang akan menghujam tubuhmu. Namun, kekuatan dalam dirimu pasti juga besar, sama besar bahkan lebih besar dari batu yang menghujam tadi. Kalau tidak kita yang menyemangati diri ini, siapa lagi?
Terakhir, kita akan menjawab pertanyaan, " Bagaimana cara menaklukkan rasa takut ? " Baca baik-baik tips ini yaa. Taklukkan rasa takutmu dalam melakukan sesuatu, dengan mengerjakan sesuatu tersebut! Maksudnya adalah lakukan pekerjaan yang selama ini kamu takuti, setelah itu rasa takutmu akan sirna. Ketika teman-teman takut untuk berbicara di hadapan orang banyak, cara mengatasinya adalah dengan mengacungkan tangan. Acungkan tanganmu dan utarakan gagasanmu. Untuk pertama, mungkin kaki bergetar tanpa daya. Namun, untuk kali kedua, kaki tidak bergetar lagi. Sebagai gantinya, jantung berdetak kencang tak terkendali. Untuk kali ketiga, jantung sudah berdetak dengan tempo normal, sebagai gantinya lidahmu akan tergagu-gagu dalam menyampaikan pendapat. Berbeda untuk kali keempat, kamu sudah fasih berbicara. Dan parahnya, kamu akan ketagihan ingin didengarkan orang lain. Waw!
Kesimpulannya, semua butuh proses. Jangan berhenti, hajar terus !
Setelah itu teman-teman akan menyadarinya, "Ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Dugaanku dulu terlampau berlebihan. :)
Siip yaa?
Catatan ini kutulis terinspirasi dari pengalaman pribadi. Dengan mengumpulkan sejumlah teori dari buku " Berpikir dan Berjiwa Besar " karangan David J. Schwartz dan diskusi panjang lebar dengan beberapa sahabat banyak hal yang baru penulis sadari. Semoga artikel ini memberi banyak manfaat untuk kita semua ^__^

Komentar

Postingan Populer