68



Hari ini, aku terbelalak menatap angka 68 di kertas ujianku. 68 memang sekedar angka.Yap, angka mati tepatnya. Apa lagi yang harus kulakukan dikala otak dan hati menolak untuk bekerja? Apa lagi yang harus kuperbuat dikala tangan ini ingin meremas lembaran buku yang hingga saat ini tak ingin kupegang apalagi kulihat?

68? Jelas sudah. Aku kalah bahkan sebelum pertarungan besar itu dimulai. Ujian Akhir Semester di depan mata, dan persiapanku? Nol besar. Apa yang akan kukatakan pada ibu nanti saat pulang? Apa yang harus kubanggakan pada adik-adikku ketika mereka bertanya mengenai kuliahku?

Maafkan aku ibu, aku memang anak yang payah. Maafkan kakak, Faris. Kakak memang tak bisa diandalkan. Oh Tuhan, bukakan hatiku dan pikiranku untuk memahami ilmu kimia ini, walau aku tak pintar, walau aku malas, walau kemampuanku rata-rata, tapi aku masih ingin mencoba, Tuhan.

Mimpi yang kukoar-koarkan selama 2 tahun belakangan ini akankah lenyap hanya karena angka 68 ini? Tidak, tak akan pernah kubiarkan. Mimpiku, kunci bahagiaku. Memang hari ini aku tersandung oleh sebuah batu kecil. Baik, aku akan menyimpan sebongkah batu ini jauh di dasar hatiku agar aku tak jatuh untuk kedua kalinya. Apapun yang terjadi, harus rajin. 

68? Tidak untuk kedua kalinya. Sim salabim, 68 berubahlah! Sekuat apapun ku berteriak, angka itu sama seperti sediakala. Benar-benar mencoreng mukaku. Mungkinkah aku harus mengubah sikap belajarku? Kuakui, hingga hari ini rasa cinta itu belum tumbuh di hatiku. 

Kimia? Sekedar ilmu yang notabenenya harus kulalui suka tak suka. Rasa jenuh itu muncul, dan menggelegak di ubunku. Hari ini, seorang Nadia harus berdamai dengan hatinya juga pikirannya. Jalanilah, manisnya akan kau kecap di ujung perjalananmu, Nadia. Ikhlaslah, dan keluarkan usaha terbaikmu.

Jangan sia-siakan mimpi yang telah kau bangun dan bisikkan di setiap doamu. Bukankah hidup tiada indah tanpa gelombang? Bahkan ombak pun menjadi rupawan karena adanya terjangan ombak yang menghempasnya kesana kemari.

Jalanilah hidupmu dengan sebaik-baiknya, karena Tuhan hanya memberimu kesempatan. Ya, satu kesempatan untuk mengerahkan yang terbaik. :)
Kau dan aku, must be success!

Komentar

Postingan Populer