Surat Cadangan


Teruntuk Ilfiqrika Sari.
Ini adalah surat keduaku, jadi, simak baik-baik ya. :D

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
How are you? Semoga keadaanmu baik. Hari ini aku akan mengungkap rahasia itu. Rahasia di atas rahasia. Perhatikan dan baca dengan pelan, ok?

Hari itu, pertama kalinya
aku melihatmu
Duduk di pojok depan
Seraya bersandar
Ya, itu kau
Aku mencoba mendekat
Dengan malu
Kuulurkan telapak tanganku
Kau sambut tanganku 
tanpa ragu
Kau dan aku tersenyum
Inilah awal
dimana cerita itu bermula
Biar kunamai cerita itu
Persahabatan

Benar, inilah awal dari semua cerita bermuara. Tak pernah aku melupakan hari itu, hari dimana aku bertemu seseorang, yang kini menjadi bagian penting dalam hidupku. Kau, orang yang cukup spesial. Aku memanggilmu, Fanny. Namamu cukup indah. Kau harus tau, Fanny menjadi kata yang paling banyak kusebut dalam sehari. Bagaimana tidak? Kau selalu bersamaku, merajut dunia baru di sampingku. Kita pergi sekolah bersama, makan di kantin bersama, belajar bersama, pulang bersama, semua kita lalui bersama.

Sebuah pertanyaan selalu melintas di benakku, mengapa kau selalu menungguku?
 
Bukan sekali dua kali kau menjemputku agar bisa berangkat sekolah bersama, namun itu kau lakukan setiap hari. Setiap kalinya juga aku harus membuatmu menunggu lama di luar rumah. Jam telah menunjukkan pukul 07.20 WIB, pertanda kita akan terlambat. Aku mengintipmu dari balik jendela. Kau masih terdiam di tempat yang sama. Kau masih menungguku! Fanny, tidakkah kau lelah menjadi temanku?

Dalam perjalanan ke sekolah, kau selalu menceritakan banyak hal. Dan disaat pulang, kau akan menjadi pendengar baikku. Setiap kali aku mengulang cerita yang sama, untuk kesekian kalinya kau menegurku "Hei, aku udah mendengar ceritamu ini tiga kali!". Aku pun tertawa, karena memang tabiatku seperti ini. 

Tidakkah kau ingat? Hari itu, hujan deras mengguyur sekolah saat kita akan beranjak pulang. Bukannya menanti reda, kau dan aku malah tersenyum lalu berlarian di tengah hujan? Kau dan aku tertawa, karena memang kesempatan basah-basahan telah lama kita nantikan. Masa itu sangat menyenangkan.

Kau itu seperti super hero bagiku. Tiap kali aku ditimpa masalah, maka orang yang pertama kali resah adalah dirimu. Tiap kali aku tersakiti, orang pertama yang akan mengomel dan marah adalah dirimu. Kau akan membelaku mati-matian, bagaimana bisa? Hingga saat ini, aku tak mampu membelamu sebaik kau membelaku. Maafkan aku.

Ingatkah kau tentang mimpi yang kita ikrarkan di bawah sinar rembulan? Mimpi kita untuk mendatangi tempat itu bersama. Tempat yang segar dan penuh kedamaian. Aku sangat menantikan hari dimana kita mampu melewati semua keterbatasan yang ada, untuk mencapai tempat itu. Ayo kita berjuang bersama.

Fanny, apapun yang terjadi, kau harus tetap kuat. Ingat, kau satu-satunya harapan ayah ibumu. Aku benar-benar yakin jika Allah menghendaki, kelak kau akan menjadi seorang apoteker yang hebat. Aku tahu kemampuanmu memang disini. Karena itu, kau tak boleh malas.

Fanny, terimakasih karena selama ini telah menjadi sahabat yang baik untukku. Lakukanlah apa yang benar-benar ingin kau lakukan. Aku selalu berdiri di belakangmu, mendukungmu. 

Mengapa Tuhan mempertemukan kita? Apakah itu semacam takdir? Aku yakin, apapun yang telah terjadi, punya makna yang tersimpan.
 
Hei, tidakkah kau ingin mendirikan restoran dengan orang itu? Kuakui kau punya kemampuan yang baik dalam memasak. Jika itu terjadi, tiap kesempatan aku akan datang mengunjungi restoran itu. Tentu saja, ini demi penghematan. Untukku gratis, kan? 

Aku berharap, ketika kita telah beranjak dewasa, kau dan aku akan bercengkerama bersama di tepian ombak. Tentu saja sambilmelihat anak-anakmu yang berlarian kesana kemari.

Aku juga merindukan masa dimana kita telah beranjak tua. Kita akan duduk menikmati senja seraya meminum segelas susu coklat yang hangat. Haha :D. Kita akan bernostalgia.

Fanny, rahasiamu adalah rahasiaku, begitipun sebaliknya. Karena itu, jagalah rahasia itu baik-baik. Simpan semua kenangan memalukan itu dalam ingatan. Kelak, kita akan membongkarnya lagi untuk menertawakan betapa bodohnya diri kita di masa lalu.

Sekali lagi, terimakasih. Hem, kuenya mana?

Ups, ada hal penting yang benar-benar terlupakan olehku. Ini dia.

SELAMAT ULANG TAHUN KE-19, FANNY!
SEMOGA MAKIN SHOLEHAH, BIJAK, DAN CANTIK
TETAP JADI SAHABATKU
SAMPAI KAPANPUN

Hem, yang lagi ulang tahun. :D :D
Selamat, ya.

Maaf, karena ini untuk kedua kalinya aku tak bisa hadir merayakan ulang tahunmu. Namun, bukankah surat mewakili isi hati? Aku ingin menjabat tanganmu untuk memberimu kekuatan. Pernahkah kau dengar bahwa segala sesuatu yang disampaikan oleh hati akan tersampaikan ke hati jua? Inilah yang sedang kulakukan.

Fanny, bukankah itu kau? Ya, itu kau. Kemarilah, ulurkan tanganmu. Hah, mengapa kau begitu lama? Kemarilah, aku telah lama menunggumu. Akhirnya, kau tiba di gerbang ke-19 ini. Selamat, ya. Kau melakukannya dengan baik. Ayo kita melangkah. Perjalanan kita masih panjang. Di depan sana, banyak hal menanti.

Fanny, berbahagialah. Karena apa? Aku punya ruang khusus di hatiku untukmu. Posisinya adalah di pojok kanan bawah. Kau tahu kenapa? Sebab ayah, ibu, adik, dan kakak telah mengisi semua ruanga yang ada. Yang tersisa hanyalah ruang di pojok kanan. Apa tak masalah? Hehe. Bercanda

Pesanku, 

Hei, Fanny! Berlatihlah bernyanyi. Tiap kali kau bernyangi, terjadi getaran hebat di dinding telingaku, dan itu sangat mengganggu. Tidakkah kau tahu itu? 
Raihlah impianmu. Hidup hanya sekali dan Allah hanya memberi satu kesempatan. Ya, hanya satu kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Jadilah apoteker yang hebat!
Rajin belajar, ya. Demi mimpi kita :D
 Sekali lagi, terimakasih karena telah menerimaku dan tak menghindariku yang seperti ini.

Demikianlah surat ini kutulis dengan sepenuh hati.

Dari Rembulan yang bersembunyi dalam gelapnya malam

Nadia Minangi Dasman, Sahabatmu sejak SMA

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer