Saat Jenuh Menghampiri
Jika seseorang melontarkan sebuah pertanyaan padaku,
"Apa yang kau ingin kau lakukan saat ini?"
Spontan aku akan menjawab, "Aku ingin teriak!"
Aku benar-benar lelah menjalani hidup sebagai seorang Nadia Minangi Dasman. Tak ada hal yang bisa kubanggakan. Mimpi-mimpi itu, akankah terkubur abadi di dalam angan? Aku benci itu. Aku memimpikan banyak hal,namun aku terperangkap di dalam sangkar emas ini. Imajinasiku bergerak lincah, namun tangan, kaki, bahkan lidah ini tak mampu kugerakkan untuk menggapai mimpi itu. Kapankah masa itu tiba? Masa dimana aku mampu melakukan apa yang benar-benar ingin kulakukan? Mengapa rasa takut itu terus membayangi setiap langkahku? Mengapa keraguan itu selalu menyergap setiapkali mimpi itu terbentang di depan mata?
Bagaimana rasanya lahir sebagai orang biasa, menjalani hidup secara biasa, dan ketika mati pun biasa. Betapa menyedihkannya hal itu.
Titik terendah kehidupan, mungkin itulah fase yang tengah kualami. Karenanya, aku melampiaskan diri pada sesuatu. Hari ini, aku melahap 20 episode serial drama "The Moon that Embraces The Sun ".
Ini benar-benar di luar dugaan. Aku tak pernah mampu mengendalikan diriku ketika dihadapkan pada film yang menarik, novel yang bagus, dan komik yang lucu. Pada mulanya hanya bermaksud untuk refreshing sebentar dikala tugas perkuliahan yang menumpuk dan membosankan. Namun apa yang terjadi? aku malah tidak tidur semalaman dan duduk manis di layar laptop tanpa mau diganggu siapa pun. Tugas perkuliahan? Singkirkan itu, aku benar-benar terhanyut dengan serial drama rekaan manusia ini.
Tamat sudah drama itu kutonton. Memang menyenangkan, hanya saja aku merasa rugi, benar-benar rugi. Bagaimana bisa aku menjadikan kuliahku terbengkalai hanya karena film semata?
Aku renungkan lagi sikapku. Salah. Ya, aku melakukan kesalahan besar. Semenarik apapun film itu, tetap saja tak mengubah hidupku sedikitpun. Yang berbekas hanyalah perasaan sesal. Ya Tuhan,sekarang aku benar-benar menyesal. Apa yang harus kulakukan? Waktu 24 jamku terbuang percuma hanya karena godaan kecil ini. Bagaimana mungkin aku mampu membaikkan hidupku, bahkan untuk menahan diri saja aku tak mampu?
Setelah merenungkan semuanya, tanpa pikir panjang ku delete semua drama yang kusimpan di laptop. Semua ku delete total. Terpaksa mulai malam ini, jatah tidur kukurangi. Ini kesalahanmu, Nadia! Harus ada sesuatu yang dikorbankan untuk mebenahi semuanya.
Hari ini, aku benar-benar ingin jadi pribadi yang lebih baik, lebih bertanggung jawab dengan statusnya sebagai mahasiswa tingkat 2, dan lebih dewasa. Hari ini, aku benar-benar membenci diriku. Harus lebih baik. Ya, tentu saja, semua belum terlambat. Mimpi itu harus tetap kuraih, sejenuh apapun aku saat ini, inilah gertakan kecil kehidupan. Jika kau tak mampu, silakan berhenti. Hanya saja, ketika kau berpikir untuk berhenti, menolehlah ke belakang, sejauh apa kau sudah berjalan?
Tegakkan kepalamu, langkahkan kakimu. Jalanmu masih panjang. Kau, masih punya waktu.



Komentar
Posting Komentar