Sepucuk Al-Qalam
Teruntuk sahabat tuaku, Yunita
Amelia.
Assalamu’alaikum warohmatullahi
wabarokatuh, Uni. Apa kabar? Mudah-mudahan uni senantiasa diberkahi dan
dicurahkan kedamaian dimana pun uni berada. Hari ini, aku ingin memberitahumu
sebuah rahasia kecil yang telah lama kupendam. Biar kunamai tulisan ini dengan,
“Sepucuk Al-Qalam”. Simak baik-baik, ya Un. :)
Hari itu adalah hari pertama aku
memasuki lokal baru. Sambil mengenakan seragam putih dongker yang amat
kubanggakan itu, aku berjalan riang memasuki pekarangan sekolah. Sekolah yang
tak akan pernah kulupa sepanjang hidupku. Sekolah ini, adalah tempat dimana
sebuah kisah antarmanusia bermula. Ya, ini semua tentang pertemuan kita.
Kenanglah selalu tempat itu, Uni. “MTsN Padang Japang”.
Ingatan itu merekat kuat dalam benakku. Aku tahu betul usia kita masih begitu belia Hei, ketika itu usia kita baru empat belas tahun. Masih seumur jagung, bukan? Namun, di usia ini, takdir telah melempar dadunya. Angka yang muncul adalah enam. Akhirnya Tuhan mempertemukan kita secara paksa di lokal yang sama, lokal 8-2.
Sejujurnya, sebelum ditempatkan
di lokal yang sama, aku sudah mendengar banyak tentangmu. Namanya Yuni, tunjuk
salah satu temanku ke arahmu. Sejujurnya, banyak dari teman-temanku yang
membicarakanmu. Namun aku tak pernah tahu siapa dirimu. Mereka memberitahuku terkait
dirimu yang pintar tilawah, yang jago pildacil, yang sedikit sombong, ya tak
lepas dari semua itu, apalah arti ocehan belia usia empat belas tahun? Tak ada
artinya.
Hari itu, adalah minggu awal kita
sekolah. Aku ingat persis dimana posisi dudukmu, tepat di depan papan tulis
bersama Ires. Dengan ciri khas “lilik”mu yang amat rapi dipenuhi pentul,
akhirnya aku memilih memperhatikanmu dalam diam. Setiap kali guru bertanya, kau
selalu mengacungkan tangan setinggi dan secepat mungkin. Ketika diberi
kesempatan tampil di depan kelas untuk memeragakan sesuatu, selalu kau yang
muncul perdana. Setiap kali diskusi, kau selalu melontarkan kalimat
pemungkasmu, amat kritis. Belum lagi tilawahmu yang menggelegar dan pidatomu
yang menggetarkan. Tidak, tidak. Aku hanya mampu melongo mengamati
gerak-gerikmu yang melesat ibarat panah, cepat dan tepat. Ketika itu, aku yang
berusia empat belas tahun mulai merasa minder dengan kehadiranmu. Kau, terlalu
menyilaukan, kawan. Akhirnya, aku menjadikanmu lawan tanding, tentu saja dalam
diam. :)
Aku orang yang pantang menyerah,
pantang kalah, akhirnya mencoba menangkis pergerakanmu. Walau tak membuahkan
hasil, namun aku sungguh menikmatinya. Lama-kelamaan, aku mulai penasaran
dengan kepribadianmu. Masih ingatkah dirimu, di depan lokal 8-2 terbentang
bebatuan yang menjelma menjadi ‘tempat duduk’ kita? Entah semenjak kapan,
akhirnya kita sering mengobrol dan bertukar pikiran. Aku perlahan mulai
memahamimu. Rasa ‘minder’ dulu berubah menjadi rasa ‘kagum’. Aku benar-benar
ingin menjadi sepertimu. Sungguh!
Aku tak begitu ingat kapan
bermula kedekatan antara kita. Pada akhirnya, kau memintaku tak lagi
memanggilmu “Yuni”. Kau ingin agar aku memanggilmu dengan sebutan yang lebih
akrab, “Uni”. Semenjak itu, nama “Uni” menjadi salah satu kata yang paling
banyak kusebut setiap harinya. Kenapa? Karena kita selalu bersama. ^_^
Aku ingat betul kapan aku mulai
merasa ‘kau itu istimewa’. Alasannya adalah karena kau adalah sahabatku
sekarang. Sahabat yang setia berdiri di belakangku, mendorongku dari belakang,
bahkan kau menarik tanganku yang terjerembap dalam gelombang masalah tak berkesudahan.
Semenjak berjumpa dengamu, hari-hari terasa lebih menyenangkan, masalah terasa
lebih ringan, karena ada dirimu tempatku menumpahkan segala asa.
Kau tak hanya membimbingku, namun
juga menegurku ketika salah. Dulu, aku adalah pribadi yang amat pelit. Untuk
jajan saja, aku merasa enggan. Karenanya, aku selalu mengambil makanan dari
teman-teman. Sambil melempar senyum, tanganku dengan gesit merogoh makanan
ringan yang ada dalam plastik belanjaan mereka. “Ndak boleh kayak gitu, Nadia!”,
ujarmu suatu hari. Aku tersentak, karena selama ini jarang yang berani
menasehatiku. Kau, memang sahabatku.
Satu tahun kita jalani bersama.
Ada kalanya obrolan kita pecah oleh tawa, atau bahkan sendu dengan isak tangis,
ada kalanya juga kita diam-diaman tanpa alasan yang jelas. Hidupku dipenuhi
gelombang yang naik turun, tanpa indah dengan ritmenya yang tak beraturan. Satu
hal yang pasti, aku bahagia menjadi salah satu temanmu. Bahkan, hingga saat
ini, saat dimana usia kita telah beranjak dewasa, dua puluh tahun.
Tak terasa, satu tahun telah
berlalu. Kita akhirnya dipisahkan oleh takdir. Dengarkan ini, takdir telah
melempar dadunya, angka yang muncul adalah dua. Kita tak sekelas lagi, lokal
kita pun berjauhan. Beberapa bulan pun terlewati, aku dan kau telah berada di
lingkaran pertemanan yang berbeda. Kita sudah jarang berjumpa. Kalau pun
berjumpa, hanya sempat bertegur sapa. Semua sudah berubah. Jika dulu kita masih
sering bisik-bisik saat guru menerangkan, kini tidak lagi. Kadang, aku merasa
sepi tanpa hadirmu. Kau sudah dikelilingi mereka, teman-temanmu yang lain. Tak
ada lagi aku di sampingmu. Bahkan pernah terbersit di benakku, bahwa aku ini
bukan apa-apa bagimu. Toh, tanpaku, kamu masih bisa tersenyum.
Namun, dua manusia yang telah
ditakdirkan memiliki ikatan, pertemanan mereka tak akan putus semudah itu.
Karena suatu hal, aku pun mencarimu ke lokal. Bercerita tentang sesuatu yang
tak mampu kutangani sendiri. Tanganmu selalu terbuka untuk menyambut uluran
tanganku. Kita menyelesaikan masalah itu bersama. Hei, sekelas apa tidak, itu
bukan masalah besar lagi. Selagi hati kita menyatu, maka tak ada yang akan
memisahkan kita, kecuali ajal.
Kita berjuang bersama, dan
akhirnya lulus di tempat yang sama! SMA Negeri 1 Kecamatan Guguak menjadi
tempat kenangan kedua kita. Walau kelas 10 kita berada di lokal yang berbeda,
namun pertemanan kita tetap kental. Komunikasi kita tak pernah putus,
silaturrahim kita tak pernah pudar, walau kadang masalah tak dapat dihindari.
Saat itu, lokal kita bersebelahan, Uni. Uni di 10-2 sedangkan aku di 10-3.
Begitu banyak ruang untuk menghabiskan waktu bersama, meskipun sejatinya
lingkaran kita berbeda. Tak banyak yang berubah, kita masih belia kecil yang
sok dewasa, bukan? Hahaha.
Aku kini mulai paham, mengapa
takdir melempar dadu, dan angka yang muncul adalah dua. Ya, angka yang muncul
adalah dua, bukan satu! Ini artinya, kita masih memiliki kesempatan untuk
bersama di bawah atap lokal yang sama lagi. Ya, kita dipertemukan lagi dalam
satu kelas, 11 IPA 4. This is a big problem! Mengapa? Karena hampir cocok dalam
segala hal, akhirnya aku cenderung selalu berada di dekatmu. Hari ini
bersamamu, hari esok bersamamu, esok dan esoknya lagi juga bersamamu. Oh ya,
tentu saja juga bersama Puput. :P
Ini adalah momen yang penting,
Uni. Mengapa kukatakan demikian? Sebab di bawah atap ini, kita mulai hijrah.
Mulai dari membenahi penampilan hingga menjaga sikap. Kita rela menukarkan
kerudung putih kita dengan kain tebal susah dibentuk itu. Alasannya, kita ingin
membaikkan diri sedikit demi sedikit. Itu saja. Walau tak lagi cantik, namun
hati kita lebih damai, bukan? Sesuatu telah mengubah hidup kita, dan anehnya
semua itu melalui perantara orang yang tak pernah kita sangka. Dia bukan ustad,
juga bukan guru. Namun yang pasti, Tuhan telah mengirim mereka untuk kita, agar
kita hijrah dengan tujuan membaikkan diri.
Di kelas 12 IPA 4, lokal tak jadi
dirombak. Alhasil, kita ditempatkan di lokal yang sama lagi. Senyuman adalah
jawabannya. Kita bahagia dengan keputusan itu. Artinya, kita masih bisa bersama
untuk waktu yang lebih lama. Di tingkat ini, begitu banyak hal terjadi. Saat
itu, kau menceritakan semua impianmu. Kau juga minta didoakan agar amak dan
abak diberi rezeki sehingga kau mampu melanjutkan studi. Allah Maha Pengasih,
ia masih memberi kita kesempatan untuk menuntut ilmu lagi. Kita akhirnya naik
kereta yang berbeda untuk tujuan yang sama. Syurga. Aku tahu masih begitu
banyak kekurangan yang melekat dalam diri, mohon bimbing aku, nasehatiku aku,
dan tarik lagi diri ini saat terjerembap dalam jurang dosa. Impian terbesarku,
kita berjumpa di syurganya sambil berbincang dan memetik buah tanpa kulit di dalamnya.
Bertelekan dalam ranjang syurga yang indah ditemani minuman segar yang bisa
diseduh kapan pun kita inginkan. Ayo kita berbincang dan bergurau tentang semua
kisah yang pernah kita rajut bersama. Aku menantikan hari itu, benar-benar
menantikannya.
Di masa depan, telah terbayang di
benakku, kau duduk di sebuah kursi yang begitu megah. Semua orang duduk
memperhatikanmu dan menantikan kalimat yang akan kau lontarkan. Kau berdiri dan
berkata-kata dengan bijak dan tegas, sesuai ciri khasmu. Tak lupa kau gerakkan
tanganmu dengan lugas dan tangkas. Saat selesai, semua orang berdiri dan
bertepuk tangan untukmu. Ya, kau telah mengubah persepsi orang banyak. Aku tak
pernah ragu untuk membayangkan semua itu. Karenanya, yakinlah kau bisa. Tak
perlu jadi pendidik jika kau mampu melakukan banyak hal besar di luar sana.
Uni, bisa!
Usia uni sudah beranjak dewasa.
Hei, usiamu dua puluh tahun sekarang. Tak boleh cengeng, harus kuat, harus
tegar ibarat karang. Seberat apapun masalah yang menghujammu, jangan gentar.
Kita punya Allah yang Maha Besar. Jangan takut bermimpi besar. Selagi bersama
Allah, apalagi yang perlu dirisaukan.
Uni, libatkan nadia dalam setiap
keputusan yang uni pilih. Apapun itu. Aku, ingin menjadi orang penting yang
akan menjadi saksi dari setiap untaian kisahmu uni. Dari dulu, kini, bahkan
nanti. Tak boleh ada yang berubah. Apapun yang terjadi, kita tetap sahabat bukan?
Uni, aku merindukanmu. Ada
saatnya aku jatuh terjerembap dan yang kuingat adalah namamu. Kita memang tak
bersama lagi, namun bukankah hati kita telah berikrar untuk selalu bersama?
Sahabat bukan sekedar kata, ini adalah sebuah komitmen. Saling menguatkan saat
rapuh, saling merangkul saat jatuh.
Ups, hal yang terpenting nyaris
terlupa. Uni, ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu. “Selamat ulang tahun,
Uni. Ciee, yang usianya sudah dua puluh tahun. :D “ Aku punya sebuah puisi,
copas dari Marisa siih :P.
Kala
sang surya memancarkan sinarnya…
Disaat
itu pula rembulan berhenti bercahaya..
Membuat
kita lupa bahwa kita semakin dewasa…
Seiring
berjalannya waktu…
Bagai
panah yang lepas dari busurnya, yaa, seperti itulah usia kita..
Yang
selalu bertambah dan tak akan pernah kembali…
Sahabat..
Tiada
kado yang lebih berharga di hari ulang tahunmu selain kata
“Selamat
Ulang Tahun”…
Tiada
doa yang bisa kupanjatkan
Selain
doa panjang umur sehat selalu..
Tiada
harapan yang bisa kurangkai dengan indah
Selain
harapan kedewasaan untuk mengantarkanmu
menuju
kesuksesan
Untukmu,
keluarga, dan sahabat
Sekali
lagi, selamat ulang tahun sahabat ^_^
Tetaplah
menjadi Uni yang kuat, yang melengkung oleh angin
Namun
tak patah oleh badai :)
Walau tanpa jabat tangan,
bukankah yang disampaikan hati akan sampai ke hati? Nadia berharap, uni bahagia
dimana pun uni berada. Disayangi oleh banyak orang, dicintai dan dianggap
berarti oleh mereka. Mungkin, inilah alasan Tuhan memisahkan kita. Agar kau,
bisa menjadi sahabat dan memperlakukan mereka seperti dirimu memperlakukanku.
Membela mereka mati-matian seperti kau membelaku di hadapan orang-orang yang
menyakitiku. Menyemangati habis-habisan seperti kau menyemangatiku yang mulai terhenti dalam menggapai asa.
Setiap pertemuan, ada perpisahan.
Perpisahan itu adalah makna agar kita senantiasa menghargai setiap waktu untuk
bersama dan tak lagi menyia-nyiakannya saat dipertemukan kembali. Aku
merindukan hadirmu, nasehatmu, celoteh lucumu hingga detik ini. Aku ingin
mencintaimu karena Allah, doakan agar aku mampu. Sebab, kau itu istimewa.
Pertemanan kita sudah berjalan
tujuh tahun. Pertahankan dan hargai setiap waktu yang tersisa. Kau adalah salah
satu peri kecil yang dikirim Tuhan untuk menemaniku. Terimakasih, jadilah peri
untuk “nadia-nadia yang lain”. Temani mereka, dan sayangi mereka, sama seperti
betapa sayangnya dirimu padaku. Terimakasih karena telah begitu banyak aku
menyita waktumu. Tertawa, bercanda, marah, menangis, semua pernah kau lakukan
untukku. Terimakasih uni sayang.
Uni, ayo kita berjuang untuk
mimpi yang besar. Hingga saat itu tiba, biarlah kita jarang komunikasi, biarlah
kita jarang telfonan, biarlah kita jarang bertemu. Setiap impian butuh
pengorbanan. Jika kita saling merindu, kita punya telepati yang bisa
menghubungkan kita. Telepati yang amat kuat disbanding apapun di dunia. Sinyal
persahabatan akan memancar jika kau atau aku ada masalah. Sinyal itu, jaga
baik-baik.
Tulislah sebanyak mungkin surat
untukku, karena aku amat menyukai tulisan-tulisanmu. Kuat dan menggetarkan.
Jika kau menerbitkan buku, mungkin aku akan menjadi pembaca pertamamu sekaligus
penggemarmu. Tetaplah menulis, karena dunia ini senantiasa menyatukan kita.
Uni, maafkan aku atas semua
perangaiku yang membuatmu tepuk jidat. Terimakasih, karena telah bersedia
menjadi teman, sahabat, dan saudaraku. Terimakasih. Aku menyayangimu, teramat
menyayangimu. Sungguh. Karenanya, jangan pernah tinggalkan aku. Ayo kita hidup
untuk waktu yang panjang, agar kebersamaan dapat kita nikmati untuk waktu yang
lebih lama. Nadia sayang Uni. Inilah kado kecilku untukmu, semoga bermakna ya, Uni
^_^.
Assalamu’alaikum warohmatullahi
wabarokatuh.
Dari sahabat tuamu, yang selalu menikmati tiap waktu bersamamu. :)
Nadia Minangi Dasman









Komentar
Posting Komentar