Pesan Singkat
Malam
ini, saya dikagetkan oleh seuntai pesan singkat yang masuk dalam inbox FB saya.
Kata-katanya singkat, namun mendalam dan amat membekas. “Ukhti Nadia, terima
kasih karena sudah menulis”. Itulah inti dari pesan singkat itu. Ya Rabbi.
Hamba rasanya ingin terisak. Hanya karena menulis, beliau bela-belain
mengirimkan seuntai pesan ini pada hamba. Hanya karena menulis!
Rasanya
diri ini belum mampu berbuat apapun, berkontribusi untuk hal apapun. Namun
mendapati ucapan terima kasih yang begitu tulus, rasanya gersangnya padang
pasir tergantikan dengan rintik hujan yang menyejukkan. Ya Rabbi, perasaan apa
ini? Apa yang sedang terjadi? Mengapa hamba merasa melayang melintasi awan?
Bukan,
sama sekali bukan karena ucapan terima kasihnya. Hanya saja, saya tersadarkan
oleh satu hal. Sesuatu yang kita anggap kecil, remeh, dan tak berarti bagi
banyak orang, ternyata mampu memberi perubahan besar bagi orang lain. Termasuk
di dalamnya “hanya menulis status”. Bang Tere pernah berucap, “Menulislah. Bisa
jadi, tulisan kalian hari ini tak dianggap banyak orang. Namun bersabarlah.
Bisa jadi, lima tahun lagi tulisan itu akan menusuk banyak orang!
Alhamdulillah,
ini rahmat Allah. Karena Allah mengizinkan, hanya karena Allah mengkehendaki,
tulisan ini bisa diposting dan dibaca oleh beberapa orang, termasuk diantaranya
ukhti Novia. Sekali lagi, Alhamdulillah, ini semua rahmat Allah. Saya senang
sekali.
Ukhti
Novia, terima kasih sudah bela-belain mengirimkan sepucuk surat yang begitu
indah. Rasanya semangat yang pudar kembali berpendar, membuatnya melejit dengan
kecepatan yang luar biasa. Energinya dahsyat. Terima kasih telah menyempatkan
diri membaca, Ukhti. Terima kasih.
Saya
mengalami banyak hal aneh selama penulisan. Setiap kali saya menulis sebuah
pesan atau nasehat, seringkali saya merasa Allah menguji saya terlebih dahulu.
Ya, saya harus menjadi kelinci percobaan pertama dari nasehat yang saya
tuturkan sendiri. Terkadang, saya berhenti menulis. Saya belumlah pribadi baik
yang pantas menuliskan hal-hal sebaik itu. Rasanya belum pantas diri ini
menasehati banyak orang. Namun, saya berpikir keras. Jika saya terus menunda
melakukan ini, tak kunjung menulis, kapan saya benar-benar bisa menjadi orang
baik? Apakah ada kualifikasi menjadi orang baik? Baik usia kita 20, 30, atau
40, kita tak akan pernah menjadi pribadi yang baik, hanya saja kita selalu
mencoba melakukan yang terbaik agar baik di mata Tuhan. Bukan begitu? Akhirnya,
saya memilih, tetap menulis selagi Tuhan mengizinkan, selagi Tuhan
mengkehendaki.
Sahabat,
mohon doanya agar niat saya menulis bukan karena pamor, rating, atau agar
dikenal banyak orang. Mohon doanya agar niat saya menulis lurus semata-mata
karena Allah, semata-mata hanya karena ingin menebar buah kebaikan yang lebih
banyak. Mohon doanya agar tulisan saya tak hanya bergentayangan di dunia maya,
namun juga dunia nyata dalam bentuk sebuah buku. Mohon doanya, sahabat.
Tanpamu, saya bukan siapa-siapa. Tanpa Tuhan, saya hanyalah omong kosong
belaka. Se-ma-ngatmu adalah Se-ma-ngatku! Allahu Akbar!



Komentar
Posting Komentar