Refleksi Hati
Homework makes me tired... Tidak, tidak! Semua orang tengah berjuang mempertaruhkan impiannya sekarang. Mereka belajar dua kali lebih banyak. Tidur? Ah, mereka mungkin tidak tidur. Yang ada dalam pikiran mereka, bagaimana menggapai impiannya secepat mungkin agar dapat menatap senyum bahagia ibunya, dan tawa riang adik-adik kecilnya. Boleh saja malas, namun, sama saja itu artinya kamu bermain-main dengan impian yang telah kamu lontarkan pada banyak orang. Berarti, tak ada bedanya dengan omong kosong, bukan? Mereka yang benar-benar punya tekad, ia berpacu dengan waktu. Apapun yang kita kerjakan, entah hal itu bermanfaat atau sia-sia, bukankah sama-sama memakan waktu? Jangan hanya menjadi pembual, namun berbuatlah.
Terkadang, semangat naik turun. Kita butuh refleksi diri, salah satunya dengan menulis. Bukankah hati juga butuh untuk didengarkan? Bukankah terkadang hati juga perlu diajak mengobrol? Ya, itulah yang tengah saya lakukan sekarang.
Saya bisa dikatakan labil. Saat saya benar-benar tak menyukai sesuatu, maka saya bisa benar-benar mengabaikannya. IP? Entahlah, kadang saya merasa tak peduli berapa hasil yang akan saya dapatkan. Saat saya benar-benar menyukai sesuatu, saya benar-benar berlari mengejarnya, entah itu mau jatuh berkali-kali, mau ditertawakan, saya tak peduli.
Namun, pada akhirnya saya menyadari sesuatu. Mulai detik ini, saya harus peduli. Ini belum menyangkut masalah orang banyak, ini masih menyangkut diri saya pribadi. Jika saya tak mampu menanganinya, bagaimana mungkin saya mampu berbuat untuk kepentingan orang banyak? Akankah hidup saya sia-sia? Tidak, saya tak menginginkan hal itu. Maka, saya harus berubah.
Namun, pada akhirnya saya menyadari sesuatu. Mulai detik ini, saya harus peduli. Ini belum menyangkut masalah orang banyak, ini masih menyangkut diri saya pribadi. Jika saya tak mampu menanganinya, bagaimana mungkin saya mampu berbuat untuk kepentingan orang banyak? Akankah hidup saya sia-sia? Tidak, saya tak menginginkan hal itu. Maka, saya harus berubah.
Walau kemampuan saya rata-rata, namun saya benar-benar ingin merasakan nikmatnya kesungguhan dan kerja keras. Saya ingin belajar saya itu menjadi jihad! Apapun yang terjadi hari ini, itu adalah akibat dari akumulasi pemikiran kita beberapa tahun silam. Baikkanlah niat, perbaiki pola pikir. Jangan merasa jenuh. Seseorang pernah mengatakan, "Kalau udah bosan belajar di kamar, ya ganti suasananya. Kalau bisa, selingi sama baca Qur'an." Saya masih ingat senyum khas beliau. Beliau sekarang sudah menjadi seorang guru, sesuai dengan cita-cita yang pernah dilontarkannya pada saya satu tahun silam. Sepertinya, saya butuh tenaga ekstra untuk menyusul beliau. Tunggu saatnya nanti, kita sama-sama mengenakan seragam coklat itu. Saya akan berlari lebih cepat, sekali lagi, tunggu kedatangan saya.
Rasanya mustahil bisa berjumpa lagi dengan beliau, sosok yang begitu inspiratif bagi saya. Namun, jika kita percaya, maka Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya, bukan? Saya rasa, waktu itu tak lama lagi. Karenanya, saya harus berubah.
Di kamar, saya menggantung sebuah papan tulis berisi schedule line. Pada bagian atasnya, saya tulis dengan spidol merah kalimat ini, "The best teacher must have good habits."
Nah, saatnya memangkas semua tindak tanduk yang tak elegan. Suatu hari nanti, jika Allah menghendaki, saya akan menjadi seorang guru. Guru yang berkarakter, guru yang dapat memberi makna pada kehidupan orang banyak. Aamiin ya Rabbal Alamin. Teman-teman yang membaca postingan ini, mohon doanya. Semoga Allah senantiasa menyertai langkah kita.
Nah, saatnya memangkas semua tindak tanduk yang tak elegan. Suatu hari nanti, jika Allah menghendaki, saya akan menjadi seorang guru. Guru yang berkarakter, guru yang dapat memberi makna pada kehidupan orang banyak. Aamiin ya Rabbal Alamin. Teman-teman yang membaca postingan ini, mohon doanya. Semoga Allah senantiasa menyertai langkah kita.



Komentar
Posting Komentar