Stop Jadi Guru!




Minggu, pukul 21.31 WIB. Malam telah menyelimuti kota Padang. Kini yang terdengar hanyalah bunyi deruan printer yang tengah berjuang keras memenuhi tuntutan tuannya. Maklum, tugas kuliah setia menanti. Namun, entah kenapa juga malam ini sesuatu memaksa saya untuk duduk manis di depan notebook kesayangan. Ya, ‘sesuatu’ itu tak bisa diabaikan. Hati memaksa saya melakukan semua ini. Saya tau apa penyebabnya, pastilah karena acara seminar tadi siang. Ya, hari ini kita akan bicara mengenai guru. Guru? Ya, guru. Seseorang yang mengajar dan mendidik akhlak siswa-siswanya.

Pagi ini, pukul 07.00 WIB saya sudah bersiap-siap berangkat menuju Fakultas Ilmu Pendidikan yang bisa ditempuh dengan lima belas menit jalan kaki. Saya mendaftarkan diri menjadi peserta acara seminar ‘Learning Now Leader Tomorrow’ yang diadakan oleh Unit Kegiatan Kerohanian (UKK) Universitas Negeri Padang. Hati ini langsung tergetar saat mengetahui bahwa seminar ini adalah seminar pendidikan nasional. Saya benar-benar tertarik dengan dunia pendidikan. Pembicaranya adalah Kang Asep Sapa’at.

Kang Asep Sapa’at masih terbilang muda. Beliau kelahiran tahun 1983. Acara diawali dengan penampilan video yang sontak membuat saya terperanjat. Dalam video itu, diceritakan mengenai seorang pemuda berusia 30-an yang mendatangi sebuah sekolah. Perlahan, ia berjalan menyusuri ruangan kelas itu. Tiba-tiba, ingatannya kembali ke masa silam. Dalam ingatannya, tampaklah di kelas itu seorang anak laki-laki yang  antusias mendengarkan penjelasan dari gurunya di papan tulis. Ia memperhatikan dengan saksama. Dari tatapannya, saya tau bahwa dia  murid yang pintar. Suatu ketika, sesuatu terjadi. Saat si anak pulang ke rumahnya, ia mendapati adik perempuannya menangis. Sepertinya keluarganya tak mampu memberinya uang sekolah. Apa yang dilakukan anak laki-laki ini? Ia memutuskan bekerja di pasar. Tugasnya terlampau berat untuk anak seusianya. Pelan-pelan, pekerjaan itu mulai mengganggu sekolahnya. Bapak gurunya marah-marah. Nilainya 26/80. Benar-benar mengecewakan. Anak laki-laki hanya tertunduk. Guru kelasnya mengetahui hal itu. Ia meminta anak laki-laki ini menemuinya di ruang guru.
“Edwin, apa yang terjadi Edwin? Mengapa kamu seperti ini?
“Aku merasa lelah, Bu”, ujarnya dengan mata basah.

Semenjak hari itu, setiap pulang sekolah guru kelasnya selalu meluangkan waktunya untuk anak laki-laki tersebut. Setiap hari hal itu mereka lakukan. Namun, cerita tak seindah yang kita duga. 

Anak laki-laki itu sedang kerja di pasar. Entah apa yang dilakukannya, tiba-tiba aparat kemanan menyerbu lokasi itu. Semua orang berlarian, termasuk dirinya. Dia ditangkap, ia sempatkan untuk memandang sekolah untuk terakhir kalinya. Guru kelas yang mengetahui hal itu, matanya basah. Ia sangat menyayangi Edwin.

Semenjak itu, ia benar-benar berhenti sekolah. Guru kelasnya mengiriminya sebuah pesan singkat setiap hari.
“Edwin, bagaimana kabarmu?
“Edwin, apa kabar?
“Edwin, apa kabar? 

Edwin membacanya, namun ia selalu mengabaikannya. Kembali membiarkan dirinya bergelut dengan banyak pekerjaan di pasar. Namun, pesan singkat itu terus dikirimi gurunya setiap hari, hingga suatu ketika, ada yang berubah dari isi pesan singkat itu.
“Edwin, tidakkah kamu punya mimpi yang lebih besar? Edwin terdiam. Ia lama terpaku hingga akhirnya ia memutuskan sebuah pilihan.
Tiba-tiba, ia tersadar dari lamunannya lima belas tahun silam. Ia mengangkat wajahnya. Seseorang tertawa senang menatapnya. Beliaulah guru kelasnya dulu. Rambutnya sudah memutih, kacamata menghiasi senyumnya. Dirangkulnya Edwin. Penampilan Edwin sudah berubah. Ia tampak begitu gagah. Bergetar hati saya dibuatnya.

Setelah ditampilkan video, dimunculkan sebuah slide bertuliskan “Menjadi seorang guru adalah kemuliaan, bukan karena tak ada pilihan pekerjaan. Kehidupan yang lebih baik ditentukan oleh pendidikan yang lebih baik. Jika tidak siap, STOP MENJADI GURU!”.
Imam Syafi’I pernah berkata, “Jika engkau tidak tahan  susahnya belajar, maka engkau akan merasakan pedihnya kebodohan.”

Kang Asep Sapa’at punya motto hidup yang luar biasa menurut saya, “BELAJAR ATAU MATI!”. Beliau juga mengatakan bahwa motto hidupnya ini terlahir karena kata-kata yang sering diucapkan oleh almarhumah ibundanya.            
“Nak. Kita bukan orang kaya. Kita orang biasa. Maka kita harus hidup jujur dan menjadi orang yang lurus.
“Nak, kita tak mampu membeli baju bagus. Namun, berpakaianlah yang rapid an bersih agar kita senantiasa diharga.
“Nak, ibu tak bisa wariskan harta yang banyak padamu, namun sebagai gantinya, ibu akan wariskan kamu ilmu. Semoga kelak ia akan menjelma menjadi amal jariah.

Jleb. Saya terdiam seribu bahasa. Beliaulah bundanya Kang Asep, yang senantiasa beliau panggil dengan ‘Guru Karakter Terbaik’. Ya, guru karakter terbaik kita adalah ibu kita. (Ma, terima kasih tak terhingga untuk mama yang hingga saat ini masih rajin menasehati panjang lebar, masih suka larang ini larang itu, namun sungguh, mama adalah guru karakter terbaik yang dihadirkan Tuhan untuk iya. Semoga Mama senantiasa diberkahi dan dirahmati Allah. Sayang Mama :) ).

Ibu yang baik inshaa Allah akan mendidik anaknya menjadi orang-orang yang baik juga. Demikianlah yang terjadi pada Kang Asep. Kita tak akan pernah lupa dengan guru terbaik kita. Namun, jumlah mereka amat sedikit.

Dalam seminar ini juga hadir dua orang Bapak Guru dari Bukittinggi dan Pesisir Selatan. Waw, luar biasa. Rasanya bangga menjadi satu dari empat ratus peserta yang punya impian dan visi yang sama dengan saya. Kang Asep bertanya pada Bapak guru tersebut.
“Bapak, bagaimana menurut Bapak potret guru di Indonesia saat ini?
Bapak guru tersebut tersenyum. Segala sesuatu itu, ada positif dan negatifnya. Positifnya, saya sangat bangga dengan mahasiswa pendidikan yang berlomba-lomba melanjutkan S2-nya di negara luar. Semangat mereka patut diapresiasi. Namun negatifnya, guru sekarang kadang lupa dengan perannya. Saat anak-anak diminta mengerjakan tugas, ia malah sibuk dengan gadget barunya, entah itu facebook-an. Anak-anak terbaikan.

Jleb. Saya mati kutu mendengar pernyataan dari beliau. Saya hanya mampu tertunduk, mendengarkan pernyataan Bapak dengan takzim. Ya Allah, ampuni kami jika kami sering lalai, sering lupa dengan peran dan amanah yang kami pikul. Ampuni kami jika kesenangan sementara ini membuat mereka terabaikan. Maaf.

Kang Asep menanggapinya dengan tersenyum. Inilah tujuan kita menghadiri seminar ini. Hari ini kita akan membabat habis sebenarnya guru yang berkarakter itu seperti apa.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan R. Murray Thomas (1962) dalam bukunya “The Prestige of Teachers in Indonesia” : Guru Indonesia merupakan panutan yang berpengaruh di masyarakat. Namun, dalam penelitian Ifa H. Misbach (2013) : Sejak Ujian Nasional dijadikan indikator kelulusan, lebih dari 1.300 kasus contek missal melibatkan guru. Lihatlah, betapa kontras tulisan yang ditorehkan antara tahun 1962 dan tahun 2013. Manakah guru yang berkarakter itu?

Banyak orang pintar, tapi tak terdidik. Anak pintar, namun lemah iman dan budi pekerti. Warisan terakhir pemuda adalah idealism, namun ingatlah selalu bahwa warisan terakhir guru adalah keteladanan.

Apa yang terjadi hari ini adalah proses akumulasi kita puluhan tahun lalu. Lihatlah fenomena yang terjadi hari ini, misalnya saja saat menaiki bus umum. Begitu banyak ibu-ibu yang usianya lanjut dan ibu-ibu hamil yang dibiarkan berdiri diantara pemuda yang tengah asyik duduk sambil memegang gadgetnya. Parahnya lagi, dintara mereka ada yang tak merasa kuat berdiri sehingga terpaksa terduduk di lantai bus. Bagaimana sikap anak muda? Sebagian mereka acuh, tak sedikit pun hatinya terbesit memberikan tempat duduknya pada ibu-ibu ini. Jika kita pernah bersikap yang demikian, yuk mari pelan-pelan kita ‘CUT’ semua tabiat tak baik itu. Pelan, tapi pasti. Nah, menyaksikan fenomena yang seperti itu, siapa yang patut disalahkan? SIAPA YANG SALAH?

Simpul terkuat pendidikan Indonesia terletak pada simpul terlemahnya. Pertanyaannya sekarang, apa simpul terlemah pendidikan Indonesia? Jawabannya adalah GURU! Dalam sebuah wacana di salah satu surat kabar, muncul sebuah berita mengenai Pak Sartono yang masih guru honorer hingga wafatnya. HONORER HINGGA WAFATNYA! Bayangkan itu, betapa mulia hati almarhum untuk mengabdi sampai beliau bertahan menjadi guru walau hanya honorer. Selain itu, ditemukan juga guru luar biasa di belahan wilayah lainnya di Indonesia. Beliaulah Asnat Bell, seorang guru pedalaman NTT yang hanya digaji sebesar 50 ribu setiap bulannya. Tunggu dulu, 50 ribu? YA, HANYA 50 RIBU!

Jika kita bandingkan, gaji rata-rata guru Indonesia terbilang lebih rendah dibandingkan guru-guru Negara lain pada umumnya. Guru di negara luar dibayar rata-rata 10 juta. Sebab, yang hanya bisa menjadi guru hanyalah mereka yang peringkat 3 besar dalam jenjang studinya. Guru amat dihargai, amat diapresiasi. Seperti itulah negara luar memuliakan gurunya. Semoga suatu saat nanti, sesuatu yang sama juga diberlakukan di negara kita.
Nah, sekarang kita pindah pada ilustrasi yang lain. Dengarkanlah, betapa pentingnya peran seorang guru. Jika pekerjaan tukang jika tak selesai, maka rumah terbengkalai. Jika pekerjaan manager tak selesai, maka target tak tercapai. Namun, jika pekerjaan guru tak selesai, maka BANGSA TARUHANNYA!

Saat kita berusaha menjadi pendidik, maka masa depan anak bangsa dititipkan Tuhan pada kita. Saya tak mau terikat system, ujar Kang Asep. Fakta yang terjadi, setelah munculnya sertifikasi, 90 % terjadi peningkatan anak muda menjadi guru. Saya sangat berharap kita tidak termasuk orang-orang yang hatinya mudah putar haluan hanya karena mendengar kata ‘sertifikasi’. Saya harap tidak. Saya yakin tidak!

Tugas seorang guru adalah memperbaiki akhlak murid. Lantas, siapa yang harus perbaiki akhlak guru buruk? Guru buruk bisa antar murid raih gelar dokter, insinyur. Namun, murid yang dicetak itu, perangainya JAUH LEBIH BURUK dari gurunya.

Kami tiba-tiba ditanyai beliau, apa visi Anda sebagai guru? Salah seorang peserta mengacungkan tangannya dan menjawab, “Saya ingin membantu mereka menggapai impian mereka.” Kang Asep kembali dengan senyum khasnya. Ia tayangkan kepada kami sebuah video.

Saya menangkap itu adalah sebuah ruang sidang perkuliahan. Seorang mahasiswa kedokteran disidang oleh professor-profesor terkait kasusnya yang membuka praktek tanpa izin. Spontan, ia dilempari pernyataan-pernyataan yang menyudutkan. “Bagaimana jika pasien meninggal!” Mengapa kamu nekad melakukan itu! Apa kamu tak memikirkan keselamatan pasien?", tanya salah satu profesornya dengan keras. Tiba-tiba, mahasiswa yang lama terdiam ini akhirnya angkat bicara. “Apa yang salah dengan kematian? Mengapa kematian seolah menjadi musuh yang menakutkan bagi kita? Apa yang salah dengan kematian? Apakah tugas dokter mencegah kematian? Tidak, bukan itu tugas seorang dokter. Tugas seorang dokter adalah meningkatkan kualitas hidup dengan melayani sesama. Saya tertawa bersama mereka, menangis bersama mereka, kami berteman, kami bersahabat baik. Adakah yang salah dengan itu? Ruang sidang senyap. Tiba-tiba, pintu dibuka. Disana, bermunculanlah anak-anak yang tak lain adalah pasiennya. Mereka menyerbunya dan menempeli hidung mereka dengan bola merah seperti yang sering ia lakukan selama ini untuk menghibur mereka. Jleb. Lagi, mata saya basah. Reaksi apa yang terjadi pada hati dan akal sehat saya? Ya Robbi, benar-benar merinding saya dibuatnya.

Kang Asep berkata,visi seorang guru juga sama! MELAYANI SESAMA! Jangan paksa anak menjadi pintar. Tak mungkin mereka semua mampu memenuhi tuntutan itu. Namun berdoalah agar mereka dapat hidayah. Visi itu akan selalu bicara tentang orang lain, beda halnya dengan ambisi yang membuat kita tak peduli orang lain dan memikirkan diri sendiri.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita sesuai harapan? Sudahkah kita sungguh-sungguh? Sudahkah kita bersyukur? Sudahkah kita bersabar?
Pernah mendengar tentang Bu Een Sukasih yang terbaring lumpuh di tempat tidur dan masih mampu mengajar murid-muridnya. Saat ditanya apa motivasi beliau berbuat demikian, inilah jawaban beliau.
“Saya adalah bagian dari masyarakat. Apa yang bisa saya berikan pada masyarakat adalah ini.”

Calon guru harus SEMANGAT!!!
Pertanyaan visionernya, PAHAMI SIAPA DIRI ANDA! PAHAMI JATI DIRI! MELANGKAHLAH!
Tugas seorang guru adalah mengajar dan mendidik anak. Mendidik beda halnya dengan menghardik, mengajar sangat berbeda halnya dengan menghajar. Pendidikan beda dengan kekerasan! Bicaralah dari hati ke hati. Namun ingatlah hal ini, tugas seorang guru sebelum mendidik anak adalah MENDIDIK DIRINYA SENDIRI.

Banyak orang berfikir orang lain harus berubah. Namun, sedikit yang paham bahwa diri mereka harus berubah. Ingatlah, perjuangan mendidik karakter tak akan pernah selesai.
Tujuan menjadi guru terbagi menjadi tiga cabang. Pertama, mereka yang ingin mencari pekerjaan. Kedua, mereka yang ingin mencari aktualisasi diri. Ketiga, mereka yang ingin membangun peradaban. Anda pilih yang mana?

Tak perlu berpatokan pada uang. Sebab, sesungguhnya uang itu sendiri MEMBERATKAN KITA. Bayangkanlah, betapa bahagianya Bilal bin Rabbah yang bisa sambil berlari masuk syurga. Beda halnya dengan Abdurrahman bin Auf –seorang sahabat terkaya pada masanya- yang masih saja ditanyai malaikat untuk apa hartanya digunakan.

Kang Asep bermimpi untuk melatih guru-guru honorer sebagai desain kurikulum, dimana setiap satu orang dari mereka mempunyai kemampuan seratus orang guru! Semoga sukses, Bapak.

Jika tidak siap menjadi guru, maka STOP JADI GURU! Tutupnya disambut tepuk tangan meriah dari empat ratus peserta yang memenuhi aula. Luar biasa. Semua ini berkah Allah yang telah menggerakkan kaki saya melangkah ke tempat ini, bertemu orang-orang hebat penuh talenta ini.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita? Apa visi kita sebagai seorang guru? Selamat menguntai mimpi dan merajut harapan. Yakinlah itu akan terjadi, sebab Tuhan selalu mengikuti prasangka hambanya.

Komentar

  1. subhanallah.... uni yg bacgroundnyo bukan jurusan kpendidikan takjub dan merinding baco tulidan iya..... Teruslah menulis dan share tulisanmu, kawan.... ada banyak mata yang siap menatap dan hati yang siap untuk diketuk oleh kekuatan tulisanmu, sobat... :) Uni bahagia caliak tulisan-tulisan Iya. Doakan Uni bisa mengikuti hal yang sama dengan style Uni plo yo Yha.... :)

    BalasHapus
  2. Keren nad...pengen rasanya bisa menulis dengan baik seperti yang lakukan... :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer